BREAKING NEWS

Tegas dalam berfikir Lembut dalam bertindak

Senin, 07 November 2016

Khotmil Qur'an LDK Rafiqil A'la;

Tadarus fi Khotmil Quran LDK Rafa

Bukan karena semata-mata mendongkrak persaingan antar UKM lain. Di tengah hiruk pikuk perkuliahan dan beragam warna kegiatan yang memadati masing-masing Civitas Akademika IAI Al-Qolam, mari sejenak menundukkan kepala, mengistirahatkan akal dan membasahi lisan dengan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Semoga dengan ini Mushalla Rafiqil A'la semakin makmur dengan kegiatan-kegiatan manfaat. Manfaat kepada Mahasiswa, Kampus, Dosen dan program Jama'ah dan Waqi'ah.
Tadarus Muslimah LDK Rafa

Tadarus Muslimah Rafa di Musolla Rafiqil A'la

Tadarus Anggota LDK Rafa di Musolla Rafiqil A'la

Khotmil Qur'an LDK Rafiqil A'la



Mabdaah ( Masa Awal Berdakwah) II LDK Rafiqil A'la

Sambutan Ketua Panitia Mabdaah II, Muhammad Yusqi
         setelah sekitar dua tahun tidak dilaksanakan Mabdaah di LDK Rafiqil A'la, alhamdulillah pada 24 September 2016 kemarin kegiatan yang bertujuan sebagai kaderisasi di LDK Rafiqil A'la bagi Anggota baru. tujuan ini sama persis dari kepanjangan Mabda'ah itu sendiri; Masa Awal Berdakwah.
   
pelaksanaan Mabdaah yang ke-2 ini dilaksanakan dengan dua tahap.  Indoor dan Out Door. In door merupakan tahapan transformasi materi kepada peserta. Dalam Mabdaah ini materi yang disampaikan adalah Metode Dakwah oleh Gus. Athok Lukman Hakim, Stretegi Dakwah oleh Gus. Muhammad Hilal dan Ke-LDK-an oleh Kang Abdurrofik mantan ketua umum LDK. Sementara yang sifatnya Out Door, termasuk kegiatan yang bertujuan untuk melatih mental anggota menjadi mental yang kaut, tegas dan pemberani namun tetap santun dalam bertindak. 
Penyambutan Pemateri Mabdaah II

Gus Athok Lukman Hakim, salah satu Dosen IAI Al-Qolam, memberikan Pemaparan materi " Metode Dakwah" di Mabdaah II

Anggota Muslimah Baru LDK Rafiqil A'la melakukan Diskusi dari hasil pemaparan Materi Mabdaah II

Anggota Baru LDK Rafiqil A'la melalukan diskusi terhadapa materi Mabdaah II
Peserta Mabdaah II ( foto bersama setelah pengukuhan sebagai anggota LDK Rafiqil A'la)

Foto Bersama antara Panitia Mabdaah, Peserta Mabdaah, Pengurus LDK Rafiqil A'la dan Puskomda Malang Raya, setelah Pengukuhan di Hutan Kota Malabar

Minggu, 18 September 2016

Mabdaah I LDK Rafiqil A'la

Mabdaah I LDK Rafiqil A'la

Mabdaah I LDK Rafiqil A'la

Hubungi Kami di:

Sekretariat

Kampus IAI Al-Qolam Jl. Putat Lor Gondanglegi Malang
Kode Pos: 65174 Telp:  0812 3052 0457 ( Ketum ), 0856 4994 1733 ( Sekum )
Facebook : LDK " Rafiqil A'la"
Pelatihan Urgensitas Publikasi & Dakwah Bersama Gus. Abdurrahman Sa'id ( Warek I IAI Al-Qolam)
Dialog Interaktif Bersama K. Agus Sunyoto

Selasa, 06 September 2016

Ngamieen Yuk…..!

Ud’uni Astajib Lakum
Itulah salah satu janji Allah yang membingungkan antra ngamen apa ngamin, pilih salah satunya, sebenarnya dari dua kata yang berbeda namun sulit di samakan ini syarat dengan kesamaan ketika kita melihat dari pangkal sisi kedunya yaitu sama –sama mengaharapkan terkabulnya sesuatu yang diinginkan, meski begitu perbedaan mendasar nya terletak pada apa yang diinginkan dan  siapa yang akan mengabulkan keinginan itu. Mari kita buka sedikit tabir perbedaan dari kedua kata ini ( Ngamen dan Ngamiien) 
Image
Ngamen adalah serangakain kegiatan yang melantunkan syair-syair atau lagu-lagu yang diinginkan. Dengan harapan, lantunan-lantunan yang di nyanyikan itu akan didengarkan dan kemudian ada balasan dari pendengar.
Sedangakan Ngamien, bahasa yang berasal dari bahasa arab yaitu amin dan kemudian sengaja kami modifikasi ala bahasa jawa, yaitu dengan menambah awalan “Nga” menjadi “Ngamin” Seperti halnya kata do’a, ketika dijadikan kata pekerjaan dalam bahasa jawa menjadi “dungo”.  Sedangkan Amiin merupakan salah satu lafadh yang digunakan oleh orang orang islam sebagai ganti dari bacaan-bacaan atas doa yang dipanjatkan oleh orang memimpin membaca doa yang berarti, “Ya tuhan, kabulkanlah semua permintaan ini.
Hanya saja, ngamien disini penulis mencoba untuk menyamakannya dengan Ngamen seperti yang telah kita ketahui bersama. Jika ada sekelompok orang ngamen, tanggapan pendengar ada dua. Pertama, mendengarkan dengan cara menikmati alunan musik yang diperdengarkan. Kedua, tanpa menggubris dan lalu merokoh gocehnya  dengan “segera” karena tak mau lama-lama sekelompok pengamen itu berada di sisinya.
Sementara jika dipersamakan dengan Amin atau Doa, ada yang langsung diterima lalu dikabulkan apapun permintaannya. Justru ada pula yang meskipun berdoa dengan “fokus”, permintaan-permintaannya tak ada balasan dari yang Maha Mengabulkan Doa. Yang kedua ini, biasanya menjadi keluhan hampir semua orang yang memanjatkan doa yang tak dikabulkan. Sementara dari pemahaman penulis, bisa saja, kasus Doa yang masih ditahan, atau lebih tepatnya belum dikabulkan itu karena faktor orang yang berdoa atau Dzat yang dipinta.
Seharusnya, dipertanyakan dulu apakah dia (orang yang berdoa) itu berdoa, atau hanya membaca doa? Jika hanya membaca doa, wajar-wajar saja umpama tidak diterima. Dan jika memang benar-benar berdoa lalu masih saja tidak diterima, bisa jadi karena Sang Maha Mengabulkan Doa itu sangat senang mendengarkan doa-doa yang dikeluhkan. Nah, ini yang menjadi persamaan antara Ngamien dan Ngamen beneran. Allah senang dengan jeritan dan tangis dalam doa kita. Semoga saja. Amin.

Namun, antara “Ngamien” dan “Ngamen Beneran”, dua istilah ini masih penulis bingungkan. Manakah yang Ngamen beneran dan benar-benar Ngamen? Apakah mereka yang Ngamen dengan cara memainkan irama musik dan memperlihatkan keahliannya? Ataukah mereka yang Ngamen dengan segudang keluhan dan disertai tangisan? Tetapi yang jelas, mengamenlah supaya diNgaman (Modifikasi dari kata Aman). Bukan mengamen agar dikasih Nguang (sudah penulis jelaskan mengapa memakai istilah Nguang). Begitu saja. Daripada begitu Amin saja.


Sabtu, 03 September 2016

Rahmat Allah Swt Bersama Dengan Prasangka Hamba


Bermacam-macam karakteristik mahluk Allah SWT yang telah diciptakan untuk mengisi warna warni dalam kehidupan didunia ini. Diantaranya Allah SWT menciptakan  iblis atau setan yang hanya berpotensi untuk melakukan kesalahan, keangkuhan , makar dan sifat-sifat buruk lainnya. Disisi lain itu  Allah juga menciptakan mahluk yang selalu berpotensi untuk melakukan kebaikan yaitu malaikat, dan dan daiantara kedua mahluk ini Allah menciptakan Manusia yang punya potensi baik dan buruk yaitu Manusia
Sudah menjadi karakter alami manusia untuk berbuat salah karena selain dikarunia akal manusia oleh allah SWT juga diberi nafsu, sehingga manusia selain berpotensi untuk berbuat baik manusia juga punya potensi  untuk berbuat salah. Sehingga dinamikan kehiidupan manusia tiadak akan pernah lepas dari kebaikan dan keburukan. Dibelahan manapun kita akan sdelalu menemukan dua bentuk perbuatan ini , dimana saja kita berada kita pastilah akan menemukan kelompok kelompok masyarakat yang religius, suka damai , tolong menolong, dan lain sebagainya, namun disi lain kita tidak akan melewati keehidupan tanpa adanya tindak criminal, makar, permusuhan dan lain sebagainya, inilah manis pahit dinamika kehidupan manusia .

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya untuk berbuat baik sebagai mahluk yang diciptakan hanya semata-mata untuk menghambakan dirinya kepada sang pencipta. Karena manusia mulai awal penciptaan memang sudah berpotensi untuk melakukan kegiatan positif (kebaikan) dan negative(dosa). Maka  sebanyak apapun kesalahan yang dilakukan ,sebesar apapun dosa  yang telah diperbuat,manusia yang muslim seyogyanya untuk selalu berusaha untuk memperbaiki dirinya karena sifat pengampun Allah SWT lebih besar dari itu disi lain penghambaan pada tuhan adalah tugas manusia diciptakan . Bukankah Allah telah memberikan kabar ini dalam al-qur’an yang berbunyi:
قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Az Zumar: 53)
                Dari ayat diatas dapat dipahami seberapapun besar dosa seorang hamba, jangan merasa putus asa untu bertaubat dan mendekatkan diri pada Allah Swt, karena  jika seseorang segera bertaubat kepada allah SWT dan selalu mendekatkan diri kepada allah dengan beribadah kepadaNya, Allah SWT akan menyambut hamba tersebut dengan rahmatnya. Ketika seorang hamba mendekatkan diri pada allah dengan beribadah kepadanya maka allaoh juga akan lebih mendekatkan rahmat nya kepada hamba tersebut, semakin tinggi tingkat seorang hamba dalam  mendekastkan diri kepada Allah , maka semakin cepat pula allah menyambut hambanya dengan keluasan rahmatnya, dan begitupun seterusnya. Hal ini telah nabi Muhammad SAW sampaikan dalam hadist nya:
وعن أَبي هريرة - رضي الله عنه - ، عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ، أَنَّهُ قَالَ : (( قَالَ الله - عز وجل - : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنا معه حَيْثُ يَذْكُرنِي ، وَاللهِ ، للهُ أفْرَحُ بِتَوبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بالفَلاَةِ ، وَمَنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ شِبْراً ، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعاً ، وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعاً ، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعاً ، وَإِذَا أقْبَلَ إِلَيَّ يَمْشِي أقْبَلْتُ إِلَيْهِ أُهَرْوِلُ )) متفقٌ عليه ، وهذا لفظ إحدى روايات مسلم)رياض الصالحين (تحقيق الدكتور الفحل) - (ج 1 / ص 279(
            Betapa besar kasih sayangAllah SWT pada manusia , kehidupan orang-orang non muslim yang notabenenya tidak mnyembah Allah hidup dengan gelimang harta dan kemudahan sebgai bukti bahwa rahmat Allah lebih besar nantinya untuk orang muslimbukankah  ini adalah sebuah  kebesaran sifat “ rahman” Allah SWT.  Karena itu, hendaklah seorang Mukmin selalu bersangkaan baik terhadap Allah bahwa Dia pasti mengampuninya sebesar apa pun dosanya selama ia tidak berbuat syirik terhadap-Nya serta hendaknya tidak berputus asa dari mengharap rahmat-Nya. Semangat optimis (raja’) inilah yang perlu ditumbuhkan dalam sanubari seorang muslim mendorong manusia sebagai pemompa semangat melakukan penghambaan dirinya kepada sang pencipta semata-mata karena rahmat Allah SWT tak pernah putus kepada hambanya.
Dan jangan lupa optimis ini jangan hanya tumbuh  dalam perasaan belaka, tanpa diimbangi dengan tindakan, karena inilah sebenarnya substansi sikap roja’ sebagai sifat terpuji yang ada kesamaan dengan sikap umniah, salah satu sifat tercela. Perbedaan mendasar dari keduanya adalah kalau raja’ disertai doa dan tindakan sedangkan umniah tidak ada tindakan. Allohu A’lam.
oleh: Yusrof
 
Designed By OddThemes & Distributd By Blogger Templates