BREAKING NEWS

Tegas dalam berfikir Lembut dalam bertindak

Selasa, 06 September 2016

Ngamieen Yuk…..!

Ud’uni Astajib Lakum
Itulah salah satu janji Allah yang membingungkan antra ngamen apa ngamin, pilih salah satunya, sebenarnya dari dua kata yang berbeda namun sulit di samakan ini syarat dengan kesamaan ketika kita melihat dari pangkal sisi kedunya yaitu sama –sama mengaharapkan terkabulnya sesuatu yang diinginkan, meski begitu perbedaan mendasar nya terletak pada apa yang diinginkan dan  siapa yang akan mengabulkan keinginan itu. Mari kita buka sedikit tabir perbedaan dari kedua kata ini ( Ngamen dan Ngamiien) 
Image
Ngamen adalah serangakain kegiatan yang melantunkan syair-syair atau lagu-lagu yang diinginkan. Dengan harapan, lantunan-lantunan yang di nyanyikan itu akan didengarkan dan kemudian ada balasan dari pendengar.
Sedangakan Ngamien, bahasa yang berasal dari bahasa arab yaitu amin dan kemudian sengaja kami modifikasi ala bahasa jawa, yaitu dengan menambah awalan “Nga” menjadi “Ngamin” Seperti halnya kata do’a, ketika dijadikan kata pekerjaan dalam bahasa jawa menjadi “dungo”.  Sedangkan Amiin merupakan salah satu lafadh yang digunakan oleh orang orang islam sebagai ganti dari bacaan-bacaan atas doa yang dipanjatkan oleh orang memimpin membaca doa yang berarti, “Ya tuhan, kabulkanlah semua permintaan ini.
Hanya saja, ngamien disini penulis mencoba untuk menyamakannya dengan Ngamen seperti yang telah kita ketahui bersama. Jika ada sekelompok orang ngamen, tanggapan pendengar ada dua. Pertama, mendengarkan dengan cara menikmati alunan musik yang diperdengarkan. Kedua, tanpa menggubris dan lalu merokoh gocehnya  dengan “segera” karena tak mau lama-lama sekelompok pengamen itu berada di sisinya.
Sementara jika dipersamakan dengan Amin atau Doa, ada yang langsung diterima lalu dikabulkan apapun permintaannya. Justru ada pula yang meskipun berdoa dengan “fokus”, permintaan-permintaannya tak ada balasan dari yang Maha Mengabulkan Doa. Yang kedua ini, biasanya menjadi keluhan hampir semua orang yang memanjatkan doa yang tak dikabulkan. Sementara dari pemahaman penulis, bisa saja, kasus Doa yang masih ditahan, atau lebih tepatnya belum dikabulkan itu karena faktor orang yang berdoa atau Dzat yang dipinta.
Seharusnya, dipertanyakan dulu apakah dia (orang yang berdoa) itu berdoa, atau hanya membaca doa? Jika hanya membaca doa, wajar-wajar saja umpama tidak diterima. Dan jika memang benar-benar berdoa lalu masih saja tidak diterima, bisa jadi karena Sang Maha Mengabulkan Doa itu sangat senang mendengarkan doa-doa yang dikeluhkan. Nah, ini yang menjadi persamaan antara Ngamien dan Ngamen beneran. Allah senang dengan jeritan dan tangis dalam doa kita. Semoga saja. Amin.

Namun, antara “Ngamien” dan “Ngamen Beneran”, dua istilah ini masih penulis bingungkan. Manakah yang Ngamen beneran dan benar-benar Ngamen? Apakah mereka yang Ngamen dengan cara memainkan irama musik dan memperlihatkan keahliannya? Ataukah mereka yang Ngamen dengan segudang keluhan dan disertai tangisan? Tetapi yang jelas, mengamenlah supaya diNgaman (Modifikasi dari kata Aman). Bukan mengamen agar dikasih Nguang (sudah penulis jelaskan mengapa memakai istilah Nguang). Begitu saja. Daripada begitu Amin saja.


Share this:

 
Designed By OddThemes & Distributd By Blogger Templates